Kronologi Perang Salib 1096-1291

Narasumber :
Carole Hillenbrand (Profesor pada kajian Studi Islam dan Bahasa Arab Universitas of Edinburgh).
Catatan :

Hillenbrand membagi Perang Salib menjadi 5 periode. Namun, berhubung pada Perang Salib I dan Perang Salib II tidak didapati pemisahan yang jelas dan bermakna, maka pada catatan di bawah ini saya menjadikan 2 periode tersebut sebagai Periode Pertama. Dengan demikian, dibawah ini Anda akan mendapati pembagian masa Perang Salib menjadi 4 periode saja.

Seperti telah umum diketahui, meski Perang Salib sangat kental dengan nuansa agama, namun ternyata agama bukanlah satu-satunya motivasi, terutama di kalangan Tentara Salib (eropa). Justru, kepentingan politik dan kekuasaan lebih mendominasi mengingat pengaruh penguasa Islam waktu itu semakin jauh memasuki jantung-jantung Eropa, yang mengusik kenyamanan dan legitimasi moral-sosial penguasa tertinggi Eropa, Sri Paus (Urbanus II). Perang Salib (ternyata) bukan perang agama ! 

PERANG SALIB I
1096--------Pengumuman Perang Salib oleh Paus Urbanus II di Clermont tgll 27 Nopember.
1096-1097--Tentara Salib tiba di Konstantinopel (Spanyol) yang kala itu termasuk wilayah Islam. Terjadi pertempuran Dorylaeum.
1099--------Tanggal 15 Juli Yerusalem jatuh ke Tentara Salib.
1101--------Tentara Salib dikalahkan Turki di wilayah Asia Kecil.
1109--------Tripoli dikuasai Tentara Salib.
1119--------Pertempuran di Ladang Darah.
1129--------Tentara Salib menyerang Damaskus.
1144--------Tentara Islam dipimpin Zengi merebut Edessa, Tentara Salib mundur.
1146--------Zengi wafat.
1147--------Tentara Salib kalah di Damaskus.
1169--------Saladin berkuasa di Mesir (mewakili Nuruddin).
1174--------Nuruddin wafat. Damaskus, Aleppo, dan Mosul dipimpin Saladin.
1187--------Pertempuran Hattin tanggal 4 Juli, Saladin membebaskan Yerusalem dari tentara
Salib.

PERANG SALIB II
1187--------Sehubungan dengan kemunduran prestasi Tentara salib, pada 29 Oktober Paus Gregorius VIII mengumandangkan kembali perang salib.
1190-------Pada bulan Juni Kaisar Frederick I yang memimpin Tentara Salib ditenggelamkan pada perang laut di Cilicia.
1191--------Raja Richard dari Inggris dan Raja Philip II dari Perancis menerima penyerahan Acre. Dua bulan kemudian terjadi pertempuran Arsuf.
1192--------Perjanjian Jaffa, gencatan senjata antara Tentara Islam dan Tentara Salib. Ada kesepahaman untuk mengakhiri perang antara Tentara Salib yang dipimpin Raja Richard dan tentara Islam yang dipimpin Saladin.
1193--------Saladin wafat.

PERANG SALIB III
1198--------Paus Innocentius III mengumumkan perang salib kembali.
1204--------Tentara salib menyerang Konstantin.

PERANG SALIB IV
1213--------Paus Innocentius III kembali mengumandangkan perang salib.
1218--------Penyerangan Damietta oleh Tentara Salib.
1221--------Tentara salib di Mesir dikalahkan oleh pasukan Al Manshurah.
1229--------Perjanjian Ayubiah, Yerusalem diserahkan kepada kekuasaan Tentara Salib.
1244--------Pertempuran La Forbil. Kaum Khawarazmi (bagian Tentara Islam yang terkenal paling radikal) tidak puas atas keputusan perjanjian Ayubiah kemudian melancarkan serangan. Pada tahun ini pula Yerusalem kembali direbut Tentara Islam. Perang kembali membesar.
1250--------Tentara Salib di Mesir dikalahkan Tentara Islam.
1258--------Pada tanggal 19 Februari, kala Tentara Islam berperang melawan Tentara Salib, Mongol menyerbu Baghdad yang kala itu adalah ibukota khalifah Islam Abbasiyah. Khalifah Abbasiyah dimusnahkan.
1260--------Pertempuran Ayn Jalut. Tentara Islam (Pasukan Mamluk dari Turki) mengalahkan tentara Mongol. Pada 23 Oktober, Baybars menjadi sultan Mesir.
1268--------Baybars merebut Jaffa, Belfort, dan Antiokhia.
1271--------Baybars merebut Krakdes, Chievaliens dan Monfort.
1277--------Baybars wafat.
1289--------Panglima Qalawun merebut Tripoli.
1291--------Mamluk merebut Acre, Sidon, dan Beiru


ASUMSI
Banyak yang menganggap bahwa perang salib adalah peperangan antara Kristen dan Islam. Hal ini mungkin disebabkan karena perang ini melibatkan para Paus yang merupakan pemimpin agama Kristen (kala itu kekuasaan raja dibawah Paus). Namun dari pihak Islam, perang ini ternyata sama sekali tidak melibatkan para ulama secara langsung. Jika di pihak eropa bermunculan beberapa nama Paus, di pihak Islam tidak satupun ulama yang dikenal. Berbeda dengan perspektif eropa, bagi masyarakat Islam, Perang Salib bahkan tidak dianggap istimewa karena memang dianggap bukan perang agama.

Berdasar temuan terakhir, banyak ahli sejarah yang meragukan bahwa perang salib adalah perang agama meski nuansa agama dirasakan cukup kental. Semakin nyata bahwa kepentingan politik justru lebih mendominasi.

Selama periode Perang Salib, peradaban Islam sedang berada pada puncak kejayaannya. Tatkala raja-raja dan pangeran-pangeran eropa masih dibelenggu buta huruf, di dunia Islam telah berdiri universitas tertua di dunia. Kala itu, sebagian eropa termasuk dalam wilayah kekuasaan Islam. Banyak ilmuwan Islam yang tinggal di berbagai belahan eropa. Beragam ilmu pengetahuan telah sampai pada tingkat yang cukup tinggi yang kemudian ditularkan kepada masyarakat eropa, misalnya matematika, kimia, biologi, kedokteran, bahasa arab, astronomi, bahkan filsafat dan seni.

Dengan masuknya peradaban Islam ke eropa kala itu, tidak terbantahkan bahwa benar-benar telah terjadi transfer ilmu pengetahuan kepada masyarakat eropa. Hingga saat ini, sangat banyak buku-buku kuno yang dulu menjadi referensi utama ilmuwan eropa yang masih tersimpan di perpustakaan-perpustakaan universitas tua eropa, yang hampir semuanya berbahasa arab ! Tidak heran, hanya beberapa dekade setelah masuknya peradaban Islam di eropa, tiba-tiba bermunculan banyak sekali ilmuwan yang namanya masih dikenang hingga saat ini, seperti Galileo, Newton, DaVinci, dan lain-lain.

Sayang, setelah masa perang salib, ketika eropa sedang dimabuk berkah peradaban Islam, justru di jantung peradaban Islam terjadi berbagai konflik politik dan kemerosotan moral. Perang saudara terus berkecambuk hingga berabad-abad kemudian. Ilmu pengetahuan tenggelam dibelenggu kepentingan politik yang berujung pada kebodohon umat.

Sudut pandang Sejarah

Historiografi barat dan timur memberikan beragam pandangan mengenai perang salib, karena perang salib memiliki dua arti, pertahanan diri dan penyerangan serta barbarisme. Pandangan yang bertentangan ini telah berlangsung lama karena umat kristen sendiri memiliki ketegangan antara aktivitas militer dan ajaran Kristus untuk mencintai musuh dan memberikan pipi yang satunya lagi. Untuk alasan inilah terdapat banyak kontroversi.

Hasil perang Salib bagi dunia islam

Perang salib memiliki dampak di dunia islam, khususnya pada pandangan mereka terhadap barat dan kristen. Faktanya bahkan saat ini sebagian muslim memandang kalau perang salib adalah simbol kekerasan barat terhadap islam. Muslim ketakutan atas kebrutalan Frank dan bagaimana mereka membantai penduduk Yerusalem dan mengkhianati perjanjian. Hal ini bertentangan dengan sikap Salahuddin al Ayyubi yang membiarkan penduduk Yerusalem hidup saat menguasai kota itu. Fakta kalau Franks lebih termotivasi oleh politik dan ketamakan ketimbang alasan murni religius membuat umat islam memandang kalau imperialisme barat setelah itu sebagai bagian dari perang salib. Pandangan ini menyebabkan muslimin membuat halangan intelektual dan menjadi isolasionis dalam kebijakan mereka dan menyebabkan mereka tertinggal dalam dunia global. Kini ekstrimis dari islam maupun kristen memandang konfrontasi tidak dapat dielakkan dan karena pandangan terhadap perang salib inilah, terjadi kekerasan dalam politik kontemporer antara Barat dan Islam masa kini.

Eropa dan Barat

Hingga saat ini, perang salib dipandang sangat membantu dalam peradaban Eropa (untuk negara yang merupakan negara katolik roma dimasa perang salib), dan negara yang sebagian besar dihuni penduduk dari eropa barat, termasuk AS. Walau begitu, ada banyak kritik pada perang salib di eropa barat sejak Renaissance, dan tahun-tahun terakhir.
Para pendukung perang salib memandang kalau tindakan menekan minoritas yang menentang pandangan standar perang salib adalah bentuk agresi berdarah dan tidak manusiawi. Pandangan lain bahkan mengatakan kalau kebrutalan dan motivasi religius perang salib sesungguhnya “sangat mulia dan suci”.

Politik dan Kebudayaan

Pengalaman militer dari perang salib memiliki pengaruh besar bagi eropa: sebagai contoh, kastil-kastil eropa dibuat sangat masif seperti di timur, bukan lagi bangunan kayu seperti yang mereka buat sebelum perang salib.

Perdagangan

Pada zaman pertengahan, daerah perdagangan kunci di bumi adalah Laut hitam-laut tengah-laut merah. Ini sebelum perang salib pertama, dan pada masa perang salib pula, yang memungkinkan Eropa Barat menguasai perdagangan di Laut Tengah dan Laut Hitam, sebuah penguasaan yang terjadi sejak tahun 1000an hingga diancam oleh kekaisaran Usmaniyah Turki di pertengahan 1400an. Kendali Eropa barat pada jalur laut vital memungkinkan ekonomi Eropa Barat maju pesat, terutama untuk republik maritim seperti Venice, Genoa dan Pisa. Bukan kebetulan kalau Renaissance berawal di Italia, sebagai republik-republik maritim, dalam penguasaan Laut Tengah bagian timur dan Laut Hitam, mampu mengembalikan kebudayaan Romawi dan Yunani, begitu juga produk dari Asia Timur. Namun karena kekalahan perang salib, Eropa Barat terpaksa mencari jalur perdagangan baru ke Asia Timur, membawa pada penemuan Amerika, perjalanan mengelilingi bumi dan berujung pada kolonialisme dan imperialisme Barat.

Dunia islam

Konsekuensi jangka panjang dari perang salib pada dunia islam menurut sejarawan Peter Mansfield, adalah terciptanya mentalitas islam yang menarik diri dari globalisasi. Beliau mengatakan “Diserang dari semua penjuru, dunia islam memandang dirinya sendiri. Mereka menjadi konservatif dan defensif …. Perilaku yang tumbuh semakin memburuk saat evolusi globalisasi, sebuah proses yang dipandang tidak melibatkan dunia islam, berlanjut.”

Referensi:
1. The Crusades: The Essential Readings, ed. Thomas F. Madden, Blackwell, 2002
2. Fundamental Historical Research by Yang Xianyi
3. "Les Croisades, origines et consequences", p.62, Claude Lebedel, ISBN 2737341361
4. The Damascus Chronicle of the Crusades, Extracted and translated from the chronicle of Ibn Al-Qalanisi, translated by H.A.R. Gibb (London: Luzac & Co., 1932).
5. Third Crusade: Siege of Acre
6. Jonathan Riley-Smith. The First Crusaders 1096–1131, New York, NY: Cambridge University Press 1997, 99.
7. Atwood, Christopher P. (2004). The Encyclopedia of Mongolia and the Mongol Empire. Facts on File, Inc. ISBN 0-8160-4671-9.
8. Wikipedia.org

0 komentar:

Poskan Komentar