Intelligence

Sadli (1986) mendefinisikan intelegensi yang hampir sama dengan pendapat Bischof, yaitu intelegensi merupakan keseluruhan kemampuan individu untuk berpikir dan bertindak secara terarah, serta mengolah menguasai lingkungan secara efektif. Pendapat lain dikemukakan oleh Soemanto (1984) bahwa intelegensi adalah kesempurnaan perbuatan kecekatan kegiatan yang efisien. Dengan kata lain intelegensi menunjukkan suatu kualitas perbuatan atau tingkah laku individu. Kualitas dalam hal ini menyatakan kecepatan, kemudahan serta ketepatan dalam melakukan perbuatan atau tindakan.

Intelegensi berkaitan dengan kecakapan untuk belajar dan memanfaatkan apa yang dipelajari dalam usaha menyesuaikan diri dengan situasi-situasi yang kurang dikenal atau dalam pemecahan masalah. Belajar matematika sebagaimana dikemukakan oleh Dienes (dalam Hadejo, 1979) melibatkan struktur hirarki dari konsep-konsep tingkat lebih tinggi yang dibentuk atas dasar apa yang telah dibentuk sebelumnya, dimana suatu konsep matematika tidak mungkin dikuasai dengan sempurna kalau konsep yang melandasinya belum dipahami.

Dari beberapa pengertian intelegensi yang telah diuraikan diatas dapat dikatakan bahwa intelegensi merupakan kemampuan dasar seseorang untuk belajar dari pengalaman guna menyesuaikan dengan situasi yang dihadapi dengan cepat, tepat dan efektif. Seseorang yang memiliki intelegensi yang lebih tinggi akan mampu berbuat lebih banyak dengan usaha yang relatif lebih sedikit daripada orang yang intelegensinya lebih rendah.

Dalam kaitannya dengan proses belajar mengajar seseorang yang memiliki intelegensi lebih tinggi diharapkan mampu belajar lebih banyak, mampu menyesuaikan tugas-tugas belajarnya lebih cepat daripada orang yang memiliki intelegensi yang lebih rendah. Sedangkan menurut Purwanto (1988) intelegensi yang rendah menghambat usaha seseorang untuk maju dan berkembang, meskipun orang itu ulet dan tekun dalam usahanya.

0 komentar:

Poskan Komentar