Historiografi Barat dalam Perspektif Sejarah

Historiografi berasal dari bahasa latin history,  historia,  yang berarti sejarah, bukti, bijaksana dan graaf.  Sedangkan pengertian harafiah dari historiografi adalah tulisan tentang sejarah. Namun, sebagai sebuah ilmu, historiografi merupakan bagian dari ilmu sejarah yang mempelajari hasil-hasil dari tulisan atau karya sejarah dari generasi ke generasi, dari jaman ke jaman. Bahkan ada yang mengatakan bahwa historiografi adalah  sejarah dari sejarah. Dengan ilmu historiografi akan dibahas hasil-hasil dari penulisan sejarah, dari sejak manusia menghasilkan suatu karya sejarah bagaimanapun sederhana bentuknya, seperti cerita rakyat, legenda, mitos dan sebagainya sampai pada karya sejarah modern.[1]
Historiografi sebagai sebuah kajian dalam ilmu sejarah merupakan salah satu metode yang digunakan oleh para sejarawan dalam merealisasikan data dan fakta sejarah yang ada menjadi sebuah produk sejarah yang sempurna. Dalam memformulasikan sebuah peristiwa sejarah, seorang sejarawan akan menggunakan beberapa ilmu bantu yang ia gunakan sebagai katalisator dalam rekonstruksi peristiwa sejarah.
Historiografi atau sejarah penulisan peristiwa sejarah berkaitan erat dengan aspek geo-histori dan geo-politik dari sang penulis sejarah. Dalam kesempatan kali ini, penulis akan membahas mengenai Perkembangan Historiografi Barat dengan sub-kajian mencakup: kemunculan sejarah sebagai ilmu dan penulisannya, periodisasi penulisan sejarah Barat, kosmologi dan weltanchaung (world view) historiografi Barat hingga tokoh sejarawan klasik dan karya sejarahnya.
Dalam menyusun tulisan ini, penulis merujuk sumber fakta dari berbagai literature yang compatible dengan kajian ini. Namun, dikarenakan keterbatasan objek kajian dan daya internal penulis, maka, penulis merasa perlu untuk memperdalam pembahasan ini pada waktu yang lain. Insya Allah.
Sejarah Lahir dan Berkembangnya Historiografi Barat Dalam Dinamika Filsafat Sejarah
1.1         Munculnya Ilmu Sejarah
Dalam beberapa kesempatan di forum diskusi kelas, penulis sering mendapatkan informasi mengenai konsep sejarah sebagai suatu ilmu atau kajian tentang masa lalu. Sejarah sebagai ilmu adalah ketika nilai (value) yang terkandung dalam peristiwa sejarah itu bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah berdasarkan fakta primer yang ada.
Keaslian sumber sejarah dalam realitas keilmuwan, bersifat urgent atau penting. Hal ini menyangkut tentang produk sejarah itu sendiri, yakni tulisan. Historiografi sebagai kajian penulisan sejarah memegang peran penting dalam kualitas produk sejarah ini.
Berdasarkan babak atau periodisasinya, terdapat historiografi Barat. Jenis ini dalam konsep sejarah sebagai ilmu ditentukan oleh latar atau background sang sejarawan. Barat dalam entitas geo-politik mencakup wilayah eropa dan sekitarnya.
1.2         Penulisan Sejarah (Historiografi)
Sejarah merupakan bagian internal yang tak bisa dilepaskan dari segala aspek kehidupan manusia. Internalisasi kesadaran akan sejarah mendorong umat manusia untuk melakukan proses pendefinisian sejarahnya masing-masing. Dalam kajian ilmu pengetahuan, sejarah adalah bagian dari ilmu kemanusiaan. Pengkajian ilmu sejarah akan menghantarkan kita pada aspek dimana tuntutan produk sejarah, yakni informasi dan berita bisa dihasilkan dengan penuh tanggungjawab. Proses produksi sejarah inilah yang selanjutnya kita kenal dengan istilah HISTORIOGRAFI.
Dalam Poespoprodjo (1987 : 1) disebutkan bahwa historiografi adalah titik puncak dari seluruh kegiatan penelitian sejarah yang dilakukan oleh seorang atau lebih sejarawan. Dalam metodologi sejarah, historiografi merupakan bagian terakhirnya, bagian pamungkasnya, atau bagian penentu dari bagus tidaknya suatu nilai dari peristiwa sejarah masa lampau. Munculnya ide menuliskan sejarah sebenarnya sudah ada sejak zaman dimana manusia belum memasuki babak atau periode sejarah itu sendiri. Kita bisa melihat, Julius Caesar (100-44 SM), seorang penguasa kerajaan Romawi, pernah menyuruh kepada bawahannya untuk menuliskan semua hasil sidang senat pemerintahan kedalam sebuah papan pengumuman (Acta Diurna).
1.3         Perkembangan Historiografi Barat
Dalam sebuah tatanan keilmuwan, semua aspek yang dikaji secara ilmiah akan memiliki suatu model perkembangan kea rah yang lebih up to date. Perkembangan ilmu sejalan dengan perkembangan zaman dan tuntutan zaman. Karunia akal yang dimiliki oleh umat manusia telah memberikan sebuah konsep terbaik untuk mendinamiskan kehidupan dunia.
Historiografi sebagai salah satu aspek kajian dalam ilmu sejarah (humaniora) telah mengalami beberapa perkembangan struktur dan konsep. Secara geo-histori, Historiografi Barat mengalami periodisasi perkembangannya sendiri, yakni:
a)        Historiografi Yunani Kuno;
b)       Historiografi Romawi;
c)        Historiografi Abad Pertengahan;
d)       Historiografi Zaman Renaissance; serta; dan
e)        Historiografi Modern.
Kelima periode diatas adalah bagian dari perjalanan sejarah penulisan sejarah bangsa barat. Namun, penulis hanya akan menyoroti kajian mengenai dua poin teratas, yakni historiografi Yunani dan historiografi Romawi.
Historiografi Yunani
Periode Yunani dalam aspek historiografi berawal dari tatanan pemerintahan yang ada pada saat itu. Para sejarawan Yunani pada umumnya berasal dari lingkungan orang berada atau yang secara material berasal dari kalangan masyarakat yang posisi ekonominya baik. Mereka nampaknya telah menjalani masa kehidupan sebagai pengarang, atau bahkan sebagai ilmuwan. Akan tetapi kebanyakan dari mereka  adalah para politikus, pegawai negeri, militer, dokter (tabib) atau guru, dan  pada waktu yang sama atau sesudahnya juga masih tetap menjalankan pekerjaan penulisan sejarah.
Dalam ruang lingkup zaman Yunani, penulisan sejarah hanya sebatas pada cerita mitos dan legenda belaka. Unsur objektivitas dalam sejarah sebagai sebuah peristiwa yang benar-benar nyata terjadi belum mengalami internalisasi. Orientasi mythe lebih dominan ketimbang logika realitas.
Dalam mengkisahkan sejarah masa lampau yang jauh ke belakang, para sejarawan Yunani pada umumnya mendasarkan pada cerita rakyat  dan kisah-kisah yang disampaikan secara turun menurun atau atas karya para penulis terdahulu, yang sesungguhnya juga berasal dari  para penulis-penulis yang mendahuluinya.[2] Namun demikian sejauh bisa diketahui, tradisi penulisan sejarah yang paling awal pada jaman Yunani kuno adalah apa yang disebut dengan istilah tradisi Homerus[3], kemudian disusul dengan munculnya para Logograaf[4] , dan yang terakhir zaman keemasan historiografi Yunani kuno.
Historiografi Romawi
Periode historiografi Romawi tidaklah jauh berbeda dengan periode Yunani. Para sejarawan memiliki orientasi terhadap kesusastraan. Lebih banyak yang menceritakan sejarahnya hanya sebatas pengalaman, perasaan, mitos, legenda, ketimbang peristiwa sejarah sesungguhnya yang lebih besar. Mungkin karena pada dua zaman ini para sejarawan adalah sebagai pegawai pemerintahan, guru, pedagang, dlsb. Oleh karena itu, mereka menceritakan sejarah (historiografi lisan) hanya sebatas ruang lingkup retoris.
Ada kebisaaan para penulis sejarah zaman Romawi, bahwa publikasi sejarah harus didahului atau diawali dengan pembacaan naskah secara terbuka untuk umum. Demikian juga terjadi pada zaman Herodotus, dan masih tetap terjadi 8 abad kemudian pada sejarawan Ammianus Maecellinus.
Historiografi pada zaman Romawi adalah sejalan dengan kerajaan Romawi itu sendiri. Oleh karena itu, histoiografi Romawi lebih banyak menghasilkan karya-karya sejarah yang bersifat Rome-Oriented.
Berbeda dengan generasi pertama para sejarawan Yunani, yang tertarik pada hal yang bersifat cosmopolitan atau kekota-kotaan, sejarawan Romawi bisaanya hanya mengenal 1 kajian, yaitu Roma. Namun harus diingat, jika dibandingkan dengan Yunani yang secara politik terbagi menjadi wilayah-wilayah (polis) yang kecil, Romawi sejak perang Punisia telah berkembang meluas dan relatif mendunia. Dalam ikhtisar dari sejarah Romawi yang berawal dari “absolute” yaitu dengan pendirian kota Roma, tetapi juga dengan perhatian yang besar untuk masa Romawi yang terbaru, bisa ditemukan bentuk-bentuk annalistic yang luas,  sedangkan  bentuk kronik relatif jarang ditemukan. Ikhtisar itu bisaanya berakhir pada jamannya sendiri (si penulis). Sejarah umum yang universal yang tidak hanya dalam kerangka sejarah Romawi hanya  bisa ditemukan pada karya Trogus. Untuk masa-masa yang terbaru Romawi, banyak ditemukan studi monografi, misalnya memoires (tulisan peringatan) dan historien (cerita yang lebih detail mengenai kejadian-kejadian masa kini) atau  kadang disebut dengan istilah annalen.
1.4         Tokoh Sejarawan Klasik
Herodotus
Herodotus berasal dari Yunani, dan dilahirkan sekitar tahun 485 SM di Halicarnassus, yang ketika itu termasuk wilayah kerajaan Persia, akan tetapi mempunyai penguasanya sendiri. Ketika berumur 16 tahun, Herodotus telah ambil bagian dalam pemberontakan melawan penguasa yang dzalim, akibatnya ia dibuang (asingkan). Sesudah itu ia tinggal beberapa saat di Athena, dimana ia berhubungan dengan Pericles dan Sophocles. Dengan demikian Herodotus hidup pada jaman keemasan kebudayaan Yunani khsusunya Athena,  yaitu jaman Pentekontaetie atau 50 tahun (479 SM – 431 SM), yaitu suatu periode atau masa damai  antara perang-perang Persia dan Perang Peloposesia. Masa itu adalah masa puncak perkembangan Yunani, yang akhirnya juga  dikenal sebagai kebudayaan klasik, dan berkembang ke seluruh Eropa, Amerika dan dunia setelah melalui jaman renaissance. Dengan demikian dalam usaha mempelajari sejarah kebudayaan Barat seperti kesusasteraan, hukum, filsafat, tata negara, politik, ekonomi, sosial dan sebagainya semuanya bisa dikembalikan atau dilacak dari kebudayaan Yunani dan Romawi. Hal yang sama juga berlaku pula untuk historiografi.
Pada tahun 444 SM Herodotus terlibat dalam pendirian  koloni Thurii di Itali Selatan, dimana ia tinggal beberapa tahun sebagai tanah airnya kedua. Sesudah itu nampaknya ia kembali ke Athena dan meninggal kira-kira pada tahun 424 SM. Herodotus banyak melakukan perjalanan petualangan antara lain di sepanjang pantai Asia Kecil, tanah Yunani, Laut Hitam, Babylonia, Lembah Nil, Sicilia dan Italia Selatan. Dalam perjalanan ini ia banyak mengumpukan berbagai catatan atas negeri-negeri yang dikunjungi, yang barangkali sebagian dikumpulkan dalam catatan dan sebagian hanya dalam ingatan.  Semua catatanya itu merupakan bahan sumber  bagi karyanya yang besar yaitu historiai. Berbeda dengan para pendahulu dan teman-teman sejamannya, yaitu yang terkenal dengan sebutan para logograf, yang banyak menulis cerita-cerita mitos dan kepahlawanan, Herodotus lebih tertarik pada sejarah manusia. Namun demikian ia tidak menulis sejarah dari jamannya (masa Pantekontaetie 479 – 431 SM), akan tetapi periode tidak lama sebelum perang-perang Persia – Yunani yang telah berakhir ketika ia masih dalam usia anak-anak.
Dalam kalimat pertama Historiae ia menuliskan tema dan rencana dari karyanya yaitu sebagai berikut:
”agar segala tindakan yang dilakukan manusia tidak terlupakan oleh waktu yang terus berjalan, dan perbuatan-perbuatan penting dan menakjupkan yang dilakukan oleh  orang-orang Yunani di satu pihak,  dan oleh orang-orang bar-bar di pihak lain tidak tersembunyikan/terlupakan, disamping itu untuk menjelaskan mengapa mereka saling bertempur”.
Pernyataan itu ditujukan pada peristiwa sekitar abad 6 SM, yaitu ketika terjadi konflik/ perang antara raja Lydia di Yunani yang bernama Croesus dengan raja Persia Cyrus Agung. Perang itu digambarkan sebagai perang antara Timur (Persia)  dengan Barat yaitu Yunani (Eropa).
Namun demikian perang yang sesungguhnya antara Persia dengan Yunani baru banyak diuraikan dalam 4 buku terakhir dari 9 bukunya, yang dimulai dari  ekspedisi besar Persia melawan orang-orang Yunani dibawah Darius dan Xerxes, dan yang berakhir dengan  kemenangan-kemenangan Yunani di Plataeae dan Mycale pada tahun 479 SM. Oleh para sejarawan Barat karya Herodotus itu juga diberi judul sebagai Perang Persia (Persian War). Dalam 5 buku yang pertama pada garis besarnya berisi uraian mengenai perang melawan Yunani yang berakhir dengan kematian raja Persia Cyrus Agung tahun 529 SM (buku pertama). Ia digantikan oleh puteranya Cambyses, yang melakukan ekspedisi perang melawan Mesir (buku ke 2). Buku yang ketiga melukiskan mengenai sejarah dan kebudayaan/ tradisi Mesir. Ekspasi Persia dibawah Cambyses dan penggantinya yaitu Darius Agung ke Skytika (Scythen). Sedangkan dalam bukunya kelima berisi uraian munculnya polis Peris di Balkan, yang diteruskan dengan sejarah Sparta dan Athena.
Dalam historiografi Barat, Herodotus diakui sebagai Bapak Sejarah atau Historiografi karena hasil karyanya terkenal itu yaitu Historiae yang mengkisahkan mengenai Perang Parsi (Persian War).  Dibandingkan dengan karya-karya sebelumnya  oleh para logograaf yang bisaanya berupa mitos, epos atau dongeng-dongeng yang bisaanya masih dihubungkan dengan dongeng-dongeng, maka apa yang dilakukan Herodotus dalam karyanya bisa dianggap sebagai awal atau perintisan penulisan sejarah ilmiah. Hal itu terutama dapat diketahui dari cara atau tehnik dalam mengumpulkan sumber-sumbar bahan penulisannya yang diperoleh melalui wawancara (interview) terhadap orang yang mengalami atau terlibat dalam perang Persia. Dengan demikian ia berdasarkan wawancara  itu ia telah berusaha untuk memperoleh pengertian atau pemahaman-pemahaman dari suatu peristiwa berdasarkan fakta-fakta. Itulah ciri utama karya Herodotus dalam lapangan historiografi, yaitu telah menerapkan metode pengumpulan data melalui wawancara (walaupun demikian ada yang menyatakan bawa ia sesungguhnya belum terlepas sepenuhnya dari tradisi penulisan sebelumnya yang lebih menonjolkan kisah kepahlawanan (dalam perang Parsi). Oleh karena itulah sampai pada jamannya Herodotus orang masih sulit untuk memisahkan antara jenis karya sastra dan karya sejarah.  Yang dimaksud disini adalah bahwa suatu karya sejarah masih bisaa ditulis dalam bentuk ceritera yang sangat menarik seperti halnya karya sastra, juga masih ada cirri logograafnya, akan tetapi karya seperti itu isinya banyak mengenai sejarah. Dalam hal ini bisa dikatakan bahwa Herodotus merupakan tokoh transisi dalam lapangan sejarah, karena isi karangannya masih bercampur dengan epos dan bentuk karangannya masih mempunyai ciri logografi  juga merupakan karya sejarah yang membicarakan sejarah manusia.
Karya Herodotus itu juga mempunyai ciri yang komprehensif atau sejarah kebudayaan (antropologi kebudayaan), karena dalam buku tersebut ia juga menguraikan mengenai kehidupan masyarakat Yunani, Mesir, Persi dan lain-lain seperti dalam bidang perdagangan, pertukangan, pertanian, tradisi, adat kebisaaan dan lain sebagainya, yang meliputi berbagai aspek kehidupan masyarakat. Oleh karena itulah ia tidak hanya dianggap sebagai Bapak Sejarah, akan tetapi juga sebagai Bapak Antropologi (kebudayaan).
Karya Herodotus mengenai Perang Parsi juga dianggap sebagai hasil studi Etnografis, karena di dalamnya juga diuraikan mengenai golongan dari etnis-etnis lain yang tinggal di sekitar Yunani. Oleh karena perhatiannya pada etnografi dan antropologi, karya  Herodutus  juga diberi istilah sebagai “Nouvele historie.”
Polybius (208 SM  – 126 SM)
Polybius hidup pada masa kemegahan dan sekaligus awal kemerosotan Athena dan Sparta, akan tetapi sekaligus merupakan masa awal berdiri atau berkembangnya kekaisaran Romawi. Sebelum menulis karya sejarah historiai, ia juga pernah berkarir sebagai politikus dan prajurit militer.  Ia dilahirkan di Megalopolis, yaitu wilayah Yunani di Arcadia. Ia berasal dari keluarga terpandang.
Pada tahun 167 SM, oleh karena keluarganya dianggap terlibat dalam gerakan anti Romawi, bersama ribuan tahanan lainya sebagai sandra, ia dibawa ke Itali. Akan tetapi di Roma ia  diperlakukan secara khusus, dan bahkan akhirnya boleh tinggal di Roma. Selama itu ia bergaul dengan orang-orang kelas atas, antara lain dengan Cato dan berteman dengan Scipio Aemilianus, pengagum kebudayaan Yunani. Dalam masa tahanannya yang ke 17 tahun, sesungguhnya Polybius telah memulai  suatu rencana  penulisan sejarah, yang dimulai  dari sejak kemunculan dan ekspansi Romawi dari awal Perang Punisia ke II sampai ketika ia dibawa ke Italia.
Untuk masa setengah abad sebelumnya ia mengumpulkan sumber-sumber dengan mewawancarai saksi-saksi setempat, dan dengan penelitian bahan-bahan arsip. Disamping itu, ia juga sudah mulai menggunakan teks-teks resmi. Setelah mendapatkan ijin untuk bisa pulang lagi ke negerinya, Polybius bertempat tinggal  bersama Scipio Aemilianus (148-146), dan ikut dalam pengepungan  dan penghancuran Cartago. Tidak lama sesudah itu ia juga mengikuti pengepungan dan akhirnya kejatuhan Korinthe (146 SM). Dengan demikain ia adalah saksi dari kedua peristiwa ini. Dalam tahun-tahun yang sama (sampai 140 SM) Polybius juga mengadakan perjalanan penting, yaitu: sepanjang pantai Atlantik yaitu dari Maroko ke Portugal dan kemudian ke Mesir melalui negerinya. Pada waktu itulah ia  mencurahkan perhatianya untuk menulis historiai.
Karya Polybius yang sangat terkenal adalah  berupa 40 buku yang berisi sejarah ekspansi Romawi, yang didalamnya digambarkan bagaimana  kekaisaran Romawi berhasil menguasai seluruh wilayah Eropa Barat. Menurut Polybius bahwa dasar dari kekuatan Romawi adalah militer, yang terutama didukung oleh armada lautnya yang besar, organisasinya yang teratur serta tehnologi persenjataan yang maju menurut ukuran waktu itu, sehingga bisa menjangkau dan menundukkan bangsa-bangsa di Asia Kecil.
Disamping perang-perang, karya Polybius juga berisi mengenai politik, penaklukan-penaklukan dan kekuasaan. Analisisnya yang mendalam mengenai perkembangan sejarah Romawi dari teorinya mengenai politik kekaisaran Romawi. Menurut Polybius pada awalnya pemerintahan kekaisaran Romawi itu berbentuk monarkhi, yaitu dimana kekuasaan negara berada sepenuhnya di tangan raja. Akan tetapi oleh karena  berkembangnya perdagangan dalam masyarakat Romawi, maka system politiknyapun berubah  menjadi aristokrasi, yang dalam hal ini kekuasaan politik berada di tangan orang-orang terkemuka yang duduk dalam pemerintahan. Yang ketiga adalah demokrasi, dimana pemimpin kerajaan dipilih oleh senatus, yaitu orang-ortang tua tertentu yang memiliki pengaruh dalam masyarakat pemegang kekuasaan. Namun dalam perkembangannya pemimpin yang terpilih itu bisaanya menumpas (mengkudeta) kekuasaan yang dipercayakan kepadanya sehingga pemerintahanh kembali berbentuk monarkhi. Dengan demikian dalam sejarah  Romawi terjadilah siklis dalam system kekuasaan.
Orosius (380 M – 420 M)
Dia dilahirkan sekitar tahun 380 M, wilayah Imperium Romawi tepatnya di Propinsi Iberia. Ia mendapatkan pendidikan yang keras dalam kebudaryaan klasik dan kristen.. Sekitar tahun 414 SM ia mengungsi ke Afrika Utara ketika ada penyerbuan bangsa Bar-Bar dan disambut oleh Augustine, Menurut Augustine , Orosius ini orang yang sangat mengerti, sigap dalam berbicara dan semangatnya menyala-nyala. Orosius menulis buku yang berjudul The Seven Books Of Histori Against the Pagan. Buku ini merupakan dasar reputasi abadi Orosius dan pelengkap karya Augustine, The City Of God. Sebenarnya buku ini merupakan jawaban atas kejahatan yang disebut Pagan (penyembah berhala).
Dalam menulis buku-bukunya, Orosius menggunakan ilmu pengetahuan klasik, seperti mengambil dari karya Livy, Tacitus, dan Julius Caesar. Selain itu juga, Orosius menggunakan karya dari pengarang kristen Eusibius dan Augustine dan yang paling penting bahwasannya Oroseius menggunamkan bible dalam pendukung Interpretasinya. Sama halnya Augustine, Orosius juga merupakan sejarawan yang tidak kritis dilihat dari sumber-sumber yang jadikan rujukan bagi penyusunan bukunya. Orosius dalam membuat karyanya dengan pendekatan terhadap sejarah amat kurang, tetapi di dalam historiografi ia dianggap sangat penting karena sumbangannya terhadap filsafat sejarah, yang pastinya filsafat kristen dengan konsepsi klasik yang mengakar dalam dirinya dalam teologi injil dan patristik. Karyanya The Seven Books dipandang sebagai karya yang otoritatif tentang sejarah kuno. Kalau dibandingkan dengan karya Augustine, karya dari Orosius lebih tepat tentang argumen untuk melawan kaum pagan. Sebenarnya Orosius berangkat dari posisi Augustine dalam butur-butir karyanya. Orosius alam pendangannya sangat dekat dengan Eusebius daripada Augustine tentang kerajaan Tuhan.
Dalam hal ini Augustine sangat menyadari perbedaan ini, dalam bukunya Augustine mengajukan keberatan terhadap pendapat Orosius, malah sebaliknya sejarawan-sejarawan abad pertengahan tampaknya tidak menyadari perbedaan pendapat antara Orosius dengan Augustine. Mereka menganggap bahwa Orosius penganut faham Augustine. Filsafat sejarah Orosius merupakan kombinasi gagasan Agustine, Orosius, dan Eusibius. Oresius.
Otto Of Freising (1113 M -1158 M )
Dia disebut sebagai filsuf sejarah pertama yang dilahirkan dari keluarga bangsawan Jerman termuka. Ia cucu dari Kaisar IV dari Jerman dan dia mendapat tugas gerejani. Dia be lajar dari Paris tahun 1133 ia masuk ordo Cistarian dan masuk Biara Morimund di Perancis. Tahun 1145 ia pergi ke Roma dan bergabung dengan pasukan perang salib ke-2, menyertai familinya yaitu Kaisar Concard III. Warisan Otto dari dua karya yaitu The needs of Emperor Frederick I (1156-1158) ditulis untuk merayakan prestasi penguasa yang digjaya. Bukunya yang lain Chonicle atau History of of two Cities (1143-1147). Karyanya itulah yang memantapkan dia sebagai sejarawan.Dalam kedua karyanya itu mengemukakan jejak arah sejarah sejak penciptaan sampai tahin 1146. Karyanya merupakan karya filsafat sejarah pertama abad pertengahan yang penting Dalam karyanya History of two cities ia menggunakan karya-karya Tacitus, Varro, Eusibius, Josephus, dan sejarawan-sejarawan Pagan dan kristen lainnya. Prinsif filosofisnuya berasal dari dua sumber” mengikutji pendapat termashur dari gereja, Augustine ataupun Orosius. Ketika memlihat berbagai konflik dalam dunia khatolik yang mnenyebabkan kekacauan dan perebutan Kaisar dan Paus. Otto melihat ini merupakan suatu hal yang semestinya tnidak terjadi akarena akan menimbulkan kemalangan dan kesengsaraan. Karena dalam ajaran kristen bahwa proses historis adalah suatu penyusunan rencana Tuhan, Karena yakni dengan hal itu maka dia selamat dari sikap pesimistis.
Tidak seluruhnya Cronicle berdasarkan prinsif teologi filosofis dia juga dalam menggunakan karya sejarawan Klasik dan kristen mengandalkan bukti-bukti dokumenter dengan menggunakan pertimbangan kritis tentang makna peristiwa-peristiwa dan motif-motif manusia. Dan yang peling menonjol bahwa ia menulis sejarah bermaksud untuk melawan tradisi abad pertengahan. Dalam menulis sejarah ia cukup kritis artinya tidak begitu saja mengambil cerita yang diberikanm tetapi dalam menggunakan pendekatan ia berat sebelah.
Dalam menulis sejarah yang ia cari ialah memberikan deskripsi yang jelas tentang sejarah yang terhampar sebagai bukti-bukti yang dihiasi dengan filsafatnya. Dalam filsafatnya sejarahnya ia menganut faham Augustine tetapi menganut faham Augustine ia dikenal dengan sejarawan yang empiris yang mengakui adanya fakta tentang Jamannya. Dalam two cities-nya ia berusaha untuk memenuhi anjuran kristus
Niccolo Machiavelli (1469 M – 1527 M)
Yang menjadi obsesinya adalah politik, ia tidak bisa memikirkan yang lainnya kecuali politik. Selama 14 tahun (1498-1512) ia mengabdikan diri pada Republik Florence, ia terlibat aktif dalam politik praktis. Ia dilahirkan 13 Mei 1469 dari keluarga bangsawan di Florence. Ketika dia berhenti di kegiatan yang bersifat politik karena di usir dan di buang. Dalam pembuangannya ia menulis karyanya yang terkenal II Principe (The prince) atau sang penguasa yang ditulis dalam bulan-bulan pertamamasa pembuangannya.
Dalam bukunya ia memperlihatkan sebagai pencinta Republik Florence dan bukunya ini ditujukan kepada para penguasa yang ingin mempertahankan kekuasaan dengan pola-pola yang sudah di praktekan ahli-ahli strategi dan arsitek kekuasaan. Karyanya dipersembahkan kempada Guilino de’ Medici untuk menunjukan ke dalam pemahamannya atas pelaksanaannya politik praktis. Karena terinspirasi dengan motif-motif maka ia membuat buku Art of war maupun Discourses on Livy tentang risalat teori dan praktek militer klasik yang rumit..Kalau kita bandingkan kedua karyanya The prince dan Discourses terdapat perbedaan.
Dilihat dari isinya The Prince pendek dan tajam sedangkan Discourses isinya panjang dan tidak bersambungan. Dia membandingkan karya Livy tentang kebesaran Roma yang tahan lama dengan negeriinya yang mengalami kemerosotan. Konstitusi Roma dijadikan pembanding. Dengan melihat akhirnya kebijakan-kebijakan Machiavelli mulai dipertimbangkan oleh para bangsawan, ia ditunjuk untnuk menulis sejarah Florence oleh Medici(Universitas Florentine).
Sejarah yang ditulisnya merupakan karya pesanan untuk mengagumkan dan mengagungkan serta mengabadikan Florence abad ke 15. Dalam tulisan sejarahnya ia mengikuti model sejarawan Roma dan menggunakan gaya sastra juga. Ia juga bisa dikatakan sebagai sejarawan yang Humanis artinya mengikuti Dictum Cicero serta menggunakan sejarah untuk mengajarkan moral dengan contoh-contoh praktis. Apa yang dilahirkan Machievelli lahir dari visi dan pengalamnnya sendiri. Ia mencurahkan perhatianya pada tulisannya-tulisan sejarah dan memasukan ide-ide dan keinginan-keinginan politiknya.
Penutup
Sebagaimana sudah dijelaskan di atas, pembabakan historiografi Barat berawal dari kehidupan manusia pada zaman Yunani kuno, sekitar abad ke-5 SM. Pada periode ini, proses penulisan sejarah dilakukan oleh para pegawai negeri, guru, tabib, dan profesi lainnya.
Orientasi penulisan atau karakteristik historiografi pada periode Yunani bersifat mythe-oriented atau lebih mengedepankan ephos, mitos, legenda, dan cerita lisan lainnya. Sehingga produk sejarah pada periode ini hanya pada ruang lingkup local. Periode Romawi tidaklah jauh berbeda dengan periode sebelumnya. Orientasi penulisan sejarah hanya pada batas cerita lisan masyarakat belaka. Namun, ketika lahir HERODOTUS pada tahun 485 SM di Halicarnassus, orientasi itu berubah. Sifat penulisan sejarah berubah menjadi ilmiah. Ia dijuluki sebagai bapak Sejarah pertama dan juga sebagai bapak antropologi dunia.
Perkembangan historiografi Barat mengalami proses fluktuasi. Pasang surut peristiwa di Eropa memberikan efek domino bagi penulisan sejarahnya. Banyak terlahir karya sejarah dunia dari historiografi barat ini. Kita kenal Historiae dari Herodotus yang menceritakan Perang Parsi. Historie dari POLYBIUS yang banyak menyorot soal negara. Dan lain sebagainya.
Kajian historiografi barat sungguh panjang sepanjang perjalanan sejarah bangsa Barat sendiri. Dimulai dari zaman Yunani hingga Romawi, cukup beragam peristiwa yang bisa dijadikan bahan kajian dalam historiografi barat.
Kesimpulan ini belumlah cukup untuk mendeskripsikan mengenai historiografi barat sebagai sebuah kajian ilmu sejarah. Oleh karena itu, bila ada pengetahuan lain, silahkan untuk ditambahkan dalam bentuk komentar yang logis dan ilmiah.*** Wallahu’alam
Daftar Pustaka
Drs. Agust. Supriyono, MA., “DIKTAT, Historiografi Eropa Barat  Abad Tengah & Modern”, Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Diponegoro, Semarang, 2003.
DR. W. Poespoprodjo, L.Ph., S.S., “SUBJEKTIVITAS DALAM HISTORIOGRAFI”, Remaja Karya, Bandung, 1987.
Prof. DR. Azyumardi Azra, M.A., “HISTORIOGRAFI ISLAM KONTEMPORER”, Gramedia, Jakarta, 2002

[1]           Drs. Agust. Supriyono, MA., “DIKTAT, Historiografi Eropa Barat  Abad Tengah & Modern”, Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Diponegoro, Semarang, 2003, hlm. 1
[2]           Drs. Agust. Supriyono, MA., “DIKTAT, Historiografi Eropa Barat  Abad Tengah & Modern”, Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Diponegoro, Semarang, 2003, hlm. 8
[3]           Homeros secara tradisi dikatakan sebagai pengarang wiracarita (epos) Yunani penting Illiad dan Odyssey, mini epik komedi Batrakhomiomakchia (“Peperangan katak-tikus”), korpus Himne Homeros, dan pelbagai hasil kerja perca atau hilang seperti Margites. Beberapa penulis silam menyatakan dia mengarang keseluruhan siklus epos, yang meliputi syair lebih lanjut berkenaan dengan Perang Troya termasuk puisi Thebes berkenaan dengan Oidipus dan anaknya. Menurut cerita, Homeros itu buta dan banyak daerah di Ionia yang mengaku sebagai tempat kelahirannya, tetapi riwayat hidupnya tidak diketahui.
Homerus sesungguhnya adalah nama seorang penyair zaman Yunani kuno yang hidup pada abad 8 sebelum Masehi. Pada masa ini masih sulit untuk dibedakan antara mitos atau mitologi dengan sejarah, atau dengan kata lain keduanya masih sering bercampur. Dengan demikian yang dimaksud dengan tradisi Homerus adalah tradisi penulisan Sejarah pada jaman Yunani kuno, ketika Homerus menjadi salah satu tokoh terpeting dalam penulisan sejarah pada waktu itu yang masih bercampur dengan mytos.
[4]               logograf lebih umum digunakan untuk memberi sebutan kepada para  penulis prosa, atau dengan konotasi buruk, diperuntukkan bagi para penulis pidato, atau para penulis sejarah yang kebenaran faktanya kurang bisa dipertanggungjawabkan.

Sumber: http://initialdastroboy.wordpress.com/

0 komentar:

Poskan Komentar