Keraton dan Konsep Budaya Hindu

Kursi Keraton Bukan Hanya Tempat DudukKursi Keraton Yogya, Gedung Agung dan Puro Paku Alaman Yogyakarta tidak hanya berfungsi sebagai sarana duduk, tetapi juga memiliki fungsi simbolik yang penuh makna. Bahkan, kursi tersebut disakralkan dan dimitoskan untuk tujuan memperkokoh legitimasi kekuasaan.
Bangsal Manguntur Tangkil, Bangunan ini adalah tempat Sultan duduk di atas singgasananya pada saat acara-acara resmi kerajaan seperti pelantikan Sultan dan Pisowanan Agung.
“Kursi-kursi yang pernah digunakan oleh para penguasa itu memberikan indikasi bahwa para penguasa telah berhasil menempatkan dirinya sebagai wong agung yang harus dihormati wong cilik,” ungkap Drs Eddy Supriyatna, M Hum, dalam ujian promosi Doktor, Sekolah Pascasarjana UGM, Senin (17/11).

Pada ujian terbuka tersebut, Eddy berhak menyandang gelar doktor lewat disertasinya yang berjudul “Kursi di Keraton, Gedung Agung dan Pura Paku Alaman Yogyakarta Abad Ke-18 sampai Ke-20; Kajian Bentuk, Fungsi dan Makna Simboliknya.”

Lebih lanjut dikatakan Eddy, kursi-kursi tersebut dijadikan “alat” simbolik untuk tujuan status display, sebagai upaya membangun citra. Simbol ini cenderung masih dijadikan model ideal bagi masyarakat Jawa.

Sebagaimana diketahui, menurut Eddy, konsep kekuasaan Jawa, sosok raja dianggap sebagai orang yang memiliki konsep “gung binathara baudhendha hanyakrawati, ratu pinandhita, manunggaling kawula lan gusti.”

Dalam disertasinya itu Eddy juga menjelaskan bahwa ada tiga pengaruh budaya yang sangat kuat terhadap lahirnya kursi kekuasaan Jawa, terutama yang divisualisasikan dalam bentuk dhampar kencana (singgasana). Pertama, wujud dhampar kencana dipengaruhi oleh konsep budaya Hindu, yakni seorang raja merupakan penjelmaan atau titisan dewa.

“Ini terwujud ketika raja duduk di atas singgasana memakai pakaian lengkap dengan berbagai atribut dan ornamennya, sehingga mirip seperti sosok dewa Wisnu,” katanya.

Kedua, kata Eddy, Sultan diposisikan sebagai manusia yang paripurna dan dianggap telah bersatu atau manunggal dengan Tuhannya (konsep manunggaling kawula lan gusti) atau juga bisa diartikan manunggal-nya rakyat dan Raja atau raja dengan rakyatnya. Ketiga, Dhampar kencana termasuk kategori kursi yang diwujudkan tanpa sandaran tangan dan sandaran punggung yang berasal dari bentuk dingklik. Makna simboliknya bahwa raja sebagai hamba Allah.


“Pengaruh” Eropa
Eddy juga mengatakan, jika ditinjau dari konteks bidang ilmu seni rupa, bentuk kursi di tiga istana tersebut dipengaruhi gaya kursi dari Eropa yang pernah digunakan oleh para penguasa di Eropa, khususnya Prancis dan Inggris.

Dia menjelaskan gaya kursi yang diadopsi dari Prancis adalah gaya Louis XIV (Barok) pada abad ke-18, gaya Louis XV (Rokok) pada abad ke-19, dan gaya Louis XVI (Neo-klasik) pada abad ke-20. Gaya kursi yang diadopsi dari Inggris cenderung menggunakan gaya Georgian, gaya Queen Anne dan gaya Victorian. “Gaya kursi yang diadopsi itu sebagai implikasi dari proses difusi dan akulturasi,” jelas dosen Fakultas Seni dan Desain, Universitas Tarumanagara, Jakarta.

Artikel pada harian Sinar harapan; 2008.; rilis dari UGM lihat: ugm.ac.id/index.php?page=rilis&artikel=1625; foto dan teks foto: skyscrapercity.com/showthread.php?p=52142481;

0 komentar:

Poskan Komentar