Moluska Purba; Dari Makanan Hingga Bekal Kubur

Moluska Purba; Dari Makanan Hingga Bekal KuburMoluska terdiri atas kerang (berkatup dua) dan keong (berkatup satu). Entah disadari, entah tidak, seharusnya para pakar melakukan kajian terhadap moluska karena hewan kecil ini banyak memberikan informasi ilmu pengetahuan. Sayangnya, belum banyak pakar melakukan penelitian terhadap moluska.
Padahal moluska sudah dikenal sejak zaman prasejarah, yakni masa sebelum manusia mengenal sumber tertulis, ribuan tahun yang lalu. Pada masa itu manusia purba  banyak mengonsumsi kerang dan keong, sebagaimana ditunjukkan tumpukan kulit kerang pada beberapa situs arkeologi (istilah kerang lebih populer daripada keong).

Kerang dan keong merupakan hewan bertubuh lunak. Beberapa jenis kerang dan keong dagingnya mengandung gizi tinggi. Tak dimungkiri kalau manusia purba, baik yang hidup di tepi pantai maupun di dalam gua, sangat tergantung pada bahan-bahan makanan itu. Eksploitasi laut mulai dikembangkan masyarakat purba sekitar tahun 20.000 SM dengan hidup sebagai nelayan atau pencari kerang.
Moluska purba banyak digunakan untuk berbagai keperluan rumah tangga, seperti alat pemotong atau keperluan lain yang berhubungan dengan kelangsungan hidup dan sebagai bekal kubur. Dulu, bersama si arwah yang dikubur disertakan perhiasan-perhiasan dari kulit kerang. Mungkin ini dimaksudkan sebagai penolak bala atau agar si arwah cepat mencapai “dunia sana”.
Ekskavasi
Sisa-sisa cangkang moluska, terutama kerang, banyak ditemukan dalam berbagai ekskavasi arkeologi. H.R. van Heekeren pada 1930-an menjumpai lapisan kerang setebal 100 cm di Leang Karassa, Sulawesi Selatan. Penyelidikan van Heekeren selanjutnya di Pangkajene menghasilkan sejumlah besar alat dari kerang seperti penggaruk dan alat tusuk. Mungkin ini merupakan cara pendayagunaan kerang yang optimal, yakni dagingnya dimakan lalu cangkangnya dibuat peralatan rumah tangga.
Di Sumatera terdapat bukit kerang atau bukit remis. Bukit-bukit ini bergaris tengah sekitar 30 meter dengan tinggi tidak kurang dari 4,50 meter. Menurut penelitian H. Witkamp, bukit kerang ini merupakan hasil suatu kegiatan manusia dulu kala. Selain kulit kerang di dalamnya terdapat tulang-tulang hewan.
Pada 1925 dan 1926 P.V. van Stein Callenfels melakukan ekskavasi di sebuah bukit kerang dekat Medan. Hasilnya berupa kerang dan kapak genggam Sumatera. Kerang ini kemudian diteliti oleh van der Meer Mohr.
Dia menyimpulkan bahwa kerang tersebut pernah dipergunakan sebagai alat tiup, tempat minum, dan gayung air. Ada pula yang dipakai sebagai perhiasan dengan jalan melubangi kerang itu. Sebagian lagi dijadikan alat-alat seperti penggaruk dan serut.
Selain itu terdapat jenis-jenis kerang yang dijadikan makanan. Cara memakannya, kerang dipanaskan kemudian isinya diambil. Ada pula yang harus dipecah terlebih dulu, baru dikeluarkan isinya.
Penelitian terhadap bukit kerang dilakukan pula oleh H.M.E. Schurmann di Binjai. Dari penemuan kapak genggam, penggaruk, tusukan, dan sisa-sisa kerang, para pakar menyimpulkan bahwa kehidupan waktu itu berada dalam taraf berburu, mengumpulkan makanan, dan mencari makanan di laut. Diduga kapak genggam digunakan untuk memecah kulit kerang yang keras (Sejarah Nasional Indonesia, I).
Pada masa-masa selanjutnya para arkeolog menemukan kerang pada sejumlah situs yang terletak di pesisir. Ekskavasi di Banten, misalnya, menghasilkan sejumlah besar kerang bersama pecahan periuk dan keramik. Melihat konteksnya para pakar memerkirakan bahwa situs tersebut merupakan tempat permukiman penduduk pantai yang makanan pokok serta kehidupan sehari-harinya tergantung dari hasil laut.
Kerang pernah berfungsi sebagai alat tukar (barter) dan mas kawin. Kerang pun  menjadi hiasan perahu layar beberapa suku bangsa. Sekelompok suku bangsa memerlakukan kerang sebagai unsur religius karena mereka menganggap kerang melindungi seluruh warga dari segala mara bahaya.
Data Arkeologi
Sisa-sisa moluska menjadi data arkeologi yang berguna bagi kelengkapan suatu penafsiran sejarah. Data arkeologi tersebut dipakai sebagai petunjuk hubungan penghuni purba suatu situs dengan daerah-daerah lain, terutama daerah pesisir. Dengan mengetahui lingkungan hidup atau habitat berbagai jenis moluska, dapat disimpulkan apakah penghuni purba sudah pandai menyelam atau berlayar. Moluska juga merupakan petunjuk yang berguna dalam menentukan iklim atau cuaca dan vegetasi.
Secara umum ada tiga manfaat studi terhadap moluska. Pertama, dapat digunakan sebagai bahan aplikasi studi tentang paleoantropologi. Kedua, untuk merekonstruksi data iklim dan lingkungan purba. Ketiga, untuk studi mengenai sumber makanan. Demikian menurut Rokhus Due Awe, peneliti moluska purba dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional dan Kresno Yulianto, dosen arkeologi UI.
Sampai sekarang masyarakat Belu, NTT, masih memiliki beberapa pusaka unik. Pusaka ini mengandung pola hias prasejarah. Pola hias tersebut disusun atau disulam dari manik-manik dan dikelilingi bahan dari cangkang moluska. Pusaka berujud kain ini hanya digunakan pada upacara-upacara adat, umpamanya gake ngadhu atau pembuatan rumah adat suku yang baru dan hanya boleh dipakai oleh golongan bangsawan.
Di Belu juga terdapat benda-benda perlengkapan wanita yang biasa digunakan pada waktu melakukan tarian tradisional atau menyambut tamu-tamu agung. Perlengkapan ini berupa tusuk konde yang diberi untaian manik-manik dari kulit kerang.
Banyak kerang berukuran kecil dipakai sebagai bahan makanan dan peralatan. Moluska kecil lain, baik yang mempunyai dua katup maupun yang berbentuk spiral, sering kali dilubangi sekaligus dijalin dengan benang atau tali untuk dijadikan kalung. Perhiasan jenis ini telah dikenal sejak zaman Paleolitik Atas. Kerang yang lebih besar dimanfaatkan untuk gelang dan merjan (manik-manik).
Dibandingkan hewan-hewan lain moluska termasuk jenis yang istimewa. Kulitnya yang mengandung unsur kapur memungkinkan hewan itu hidup tahan lama dalam cuaca bagaimanapun. Hal ini sangat menguntungkan para peneliti. Berkat kelebihan itu para pakar berhasil menafsirkan berbagai aspek ilmu pengetahuan, seperti permukiman, mata pencarian, gizi, dan perdagangan sejak zaman purba.
Moluska banyak ditemukan pada situs-situs arkeologi di NTT, Anyer, dan Gilimanuk. Ada yang bentuknya kecil, ada pula yang besar. Namun moluska masih sulit dijadikan pertanggalan, seperti halnya keramik atau mata uang. Ini karena perkembangan bentuk cangkang hewan-hewan itu relatif sama dari masa ke masa. Dalam periode seratus tahun, misalnya, menurut penelitian para zoolog bentuk Gastropoda (salah satu spesiesnya) tidak pernah berubah.
Di mata para arkeolog, temuan-temuan moluska yang memiliki tanda-tanda pemangkasan atau pengerjaan oleh manusia lebih mudah diidentifikasi. Begitu juga  yang berada dalam konteks temuan atau bersama sejumlah benda arkeologis.
Di situs Gilimanuk, misalnya, pernah ditemukan banyak kerang yang punggungnya dipangkas. Semula temuan-temuan tersebut sulit diketahui fungsinya. Namun karena bentuk-bentuk seperti itu masih ditemukan di NTT (berfungsi sebagai bandul jaring) maka para arkeolog pun menganalogikan demikian, yakni dulu kerang-kerang tersebut berfungsi sebagai bandul jaring.

Sumber: http://www.indonesiakuno.com/

0 komentar:

Poskan Komentar