Puisi

Sebuah Kerinduan Kepada Mereka Yang Begitu Arif Akan Idelisme-idealismenya

Untuk mengenang mereka para idealis yang telah hilang, atau mati terbuang.. seperti tragedi seorang loyalis yang tersingkirkan..walau mereka tidak minta dikenang tapi paling tidak jika kisah mereka kelak bisa mengilhami orang lain sesudah mereka maka itu adalah kabar gembira buat mereka.. karena perjuangan untuk mewujudkan tentang tatanan yang bagaimana seharusnya, tidak bisa berhenti atau dihentikan sampai gambar ideal itu menjadi nyata..

***********************************************

Mandalawangi - Pangrango


Sendja ini, ketika matahari turun kedalam djurang2mu
Aku datang kembali
Kedalam ribaanmu, dalam sepimu dan dalam dinginmu.
Walaupun setiap orang berbitjara tentang manfaat dan guna
Aku bitjara padamu tentang tjinta dan keindahan
Dan aku terima kau dalam keberadaanmu
Seperti kau terima daku.
Aku tjinta padamu, Pangrango jang dingin dan sepi
Sungaimu adalah njanjian keabadian tentang tiada
Hutanmu adalah misteri segala
Tjintamu dan tjintaku adalah kebisuan semesta.
Malam itu ketika dingin dan kebisuan menjelimuti Mandalawangi
Kau datang kembali
Dan bitjara padaku tentang kehampaan semua.
“Hidup adalah soal keberanian, menghadapi jang tanda tanja
“Tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar
“Terimalah dan hadapilah.”
Dan antara ransel2 kosong dan api unggun jang membara
Aku terima itu semua
Melampaui batas2 hutanmu, melampaui batas2 djurangmu
Aku tjinta padamu Pangrango
Karena aku tjinta pada keberanian hidup

Djakarta, 19 Djoeli 1966
( Posted By : Charade ; Author : Soe Hok Gie )

**********************************************

Cahaya Bulan

Akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yang biasa
Pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui
Apakah kau masih selembut dahulu
Memintaku minum susu dan tidur yang lelap
Sambil membenarkan letak leher kemejaku
Kabut tipis pun turun pelan pelan di Lembah Kasih
Lembah Mandalawangi
Kau dan aku tegak berdiri
Melihat hutan-hutan yang menjadi suram
Meresapi belaian angin yang menjadi dingin
Apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
Ketika kudekap
Kau dekaplah lebih mesra
Lebih dekat
Apakah kau masih akan berkata
Kudengar detak jantungmu
Kita begitu berbeda dalam semua
Kecuali dalam cinta
Cahaya bulan menusukku
Dengan ribuan pertanyaan
Yang takkan pernah kutahu dimana jawaban itu
Bagaikan letusan berapi
Membangunkanku dari mimpi
Sudah waktunya berdiri
Mencari jawaban kegelisahan hati
~ Ost Soe Hok Gie ~


=====================================


~ Cahaya Bulan ~


perlahan sangat pelan hingga terang kan menjelang

cahaya kota kelam mesra menyambut sang petang

di sini ku berdiskusi dengan alam yg lirih

kenapa matahari terbit menghangatkan bumi
aku orang malam yg membicarakan terang

aku orang tenang yg menentang kemenangan oleh pedang
perlahan sangat pelan hingga terang kan menjelang

cahaya nyali besar mencuat runtuhkan bahaya

di sini ku berdiskusi dengan alam yg lirih

kenapa indah pelangi tak berujung sampai di bumi
aku orang malam yg membicarakan terang

aku orang tenang yg menentang kemenangan oleh pedang
reff: cahaya bulan menusukku dengan ribuan pertanyaan

yg takkan pernah aku tau dimana jawaban itu

bagai letusan berapi bangunkan dari mimpi

sudah waktunya berdiri mencari jawaban kegelisahan hati
terangi dengan cinta di gelapku

ketakutan melumpukanku

terangi dengan cinta di sesatku

dimana jawaban itu
repeat reff



0 komentar:

Poskan Komentar