Sejarah Batavia

Batavia merupakan sebutan untuk suatu kota pelabuhan yang sekarang adalah Jakarta. Nama Batavia dipakai sejak tahun 1621 oleh orang-orang Belanda menggantikan nama Jayakarta setelah mereka merebutnya dari kekuasaan Kesultanan Banten. Dari kota pelabuhan inilah VOC dan kemudian pemerintahan Kolonial Belanda mengendalikan perdagangan dan kekuasaan militer serta politiknya di wilayah Nusantara.
Nama ini bertahan sampai tahun 1942. Pada tahun itu kekuasaan Belanda jatuh ke tangan Jepang. Sebagai bagian dari de-Nederlandisasi, nama kota Batavia diganti menjadi Jakarta. Bentuk bahasa Melayu Batavia, yaitu “Betawi” tetap bertahan dan masih tetap dipakai sampai sekarang.

Gara-Gara Lada
Pada akhir abad ke-16, karena berbagai situasi yang tidak lagi mendukung suplai rempah-rempah – terutama lada – ke Belanda, akhirnya bangsa ini memutuskan untuk mencari sendiri sumbernya. Inilah yang akhirnya membawa kapal-kapal Belanda dalam pelayaran yang dipimpin Cornelis de Houtman dapat berlabuh di Banten pada tahun 1596, pelabuhan utama di Jawa pada saat itu. Dengan mengalami beberapa insiden dengan para pelaut Potugis dan Warga lokal, Rombongan ini berhasil kembali ke Belanda dengan membawa barang yang menjadi alasan pelayaran antar benua ini: Lada.
Walaupun ekspedisi pelayaran dagang perdana ini tidak menghasilkan laba yang besar, namun dianggap sebagai perintisan yang menguntungkan. Belanda meneruskan proyek ini dan pada tanggal 20 Maret 1602, para pedagang Belanda mendirikan Verenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) atau Perkumpulan Dagang India Timur, disebut juga Perusahaan Dagang Hindia Belanda . VOC ini diberi wewenang khusus dan dapat bertindak atas nama Pemerintah Belanda.

V O C
Pieter Both adalah wakil VOC pertama di Hindia Belanda dan karena kekhususan organisasi ini jabatannya adalah Gubernur-Jenderal. Pieter Both adalah Gubernur Jendral pertama Hindia-Belanda, Ia berkuasa tahun 1610 sampai 1614.
Tahun 1603 VOC memperoleh izin di Banten untuk mendirikan kantor perwakilan, namun setelah Pieter Both menjadi Gubernur Jenderal, ia memilih Jayakarta sebagai basis administrasi VOC, karena pada waktu itu di Banten telah banyak kantor pusat perdagangan orang-orang Eropa lain seperti Portugis, Spanyol kemudian juga Inggris, sedangkan Jayakarta masih merupakan pelabuhan kecil.
Pada tahun 1611 VOC mendapat izin untuk membangun satu rumah kayu dengan fondasi batu di Jayakarta, sebagai kantor dagang. setelah itu VOC menyewa lahan sekitar 1,5 hektar di dekat muara di tepi bagian timur Sungai Ciliwung, yang kemudian menjadi kompleks perkantoran, gudang dan tempat tinggal orang Belanda. Bangunan utamanya dinamakan Nassau Huis.
Ketika Jan Pieterszoon Coen menjadi Gubernur Jenderal (1618 – 1623), ia mendirikan lagi bangunan serupa Nassau Huis dan dinamakan Mauritius Huis. kemudian ia membangun tembok batu yang tinggi, dan disitu ditempatkan beberapa meriam. Tak lama kemudian, ia membangun lagi tembok setinggi 7 meter yang mengelilingi areal yang mereka sewa, sehingga kini benar-benar merupakan satu benteng yang kokoh, dan mulai mempersiapkan untuk menguasai Jayakarta.

Nama Nenek Moyang
Dari basis benteng ini pada 30 Mei 1619 Belanda menyerang Jayakarta, yang memberi mereka izin untuk berdagang, dan membumihanguskan hampir seluruh bagian kota. Berawal hanya dari bangunan separuh kayu, akhirnya Belanda menguasai seluruh kota. Semula Coen ingin menamakan kota ini sebagai Nieuwe Hollandia, namun “de Heeren Seventien” (pengurus/penguasa pusat VOC) di Belanda memutuskan untuk menamakan kota ini menjadi Batavia, untuk mengenang bangsa Batavieren. Batavieren atau Batavia adalah nama dari sebuah suku yang bermukim di tepi Sungai Rhein, Eropa. Suku nenek moyang bangsa Belanda dan sebagian bangsa Jerman.
Pada 4 Maret 1621, pemerintah Stad Batavia (kota Batavia) dibentuk. Di kota ini dibangun benteng yang bagian depannya digali parit. Di bagian belakang dibangun gudang juga dikitari parit, pagar besi dan tiang-tiang yang kuat. Selama 8 tahun kota Batavia sudah meluas 3 kali lipat. Pembangunannya selesai pada tahun 1650. Kota Batavia sebenarnya terletak di selatan Kastil yang juga dikelilingi oleh tembok-tembok dan dipotong-potong oleh banyak parit.


Diserbu
Disekitaran masa yang sama, Sultan Agung menjadi Raja Mataram di Jawa Tengah. Awal pemerintahannya ditandai dengan perluasan wilayah kerajaan ke bagian timur. Pada tahun 1625, selain Jawa Tengah, Mataram telah pula menguasai bagian tengah dan timur pantai utara pulau Jawa.
Setelah berhasi di bagian timur, Sultan Agung ingin pula menguasai daerah barat: Banten. Namun sebelum Banten ada Batavia. Mataram memandangnya sebagai bagian yang harus diatasi lebih dahulu. Sultan Agung memerintahkan melancarkan serangan ke Batavia pada tahun 1628.
Serangan pertama ini gagal, Mataram mundur, tetapi niatnya belum surut. Mataram melancarkan serangan kedua tahun 1629. Belanda rupanya lebih cerdik, armadanya menghancurkan persediaan logistik Mataram di Cirebon dan Tegal. Pasukan Mataram kelaparan dan harus mundur lagi.
Pada awal abad ke-17 perbatasan antara wilayah kekuasaan Banten dan Batavia mula-mula dibatasi oleh Kali Angke dan kemudian Kali Cisadane. Kawasan sekitar Batavia menjadi kosong. Daerah di luar benteng dan tembok kota tidak aman, antara lain karena gerilya sisa prajurit Mataram yang tidak mau atau tidak berani pulang.
Tahun-tahun selanjutnya, beberapa persetujuan bersama dengan Banten (1659 dan 1684) dan Mataram (1652) menetapkan daerah antara Cisadane dan Citarum sebagai wilayah VOC. Setelah itu daerah Batavia mulai ramai dihuni kembali.
Untuk pembangunan kota, Belanda banyak mendatangkan pekerja sebagai budak. Kebanyakan dari mereka berasal dari Bali, Sulawesi, Maluku, Tiongkok, dan pesisir Malabar, India. Sebagian berpendapat bahwa percampuran mereka inilah yang kemudian membentuk komunitas yang dikenal dengan nama suku Betawi.
Dari Benteng Menjadi Kota
Waktu itu luas Batavia hanya mencakup daerah yang saat ini dikenal sebagai Kota Tua di Jakarta Utara. Sebelum kedatangan para pekerja / budak tersebut, sudah ada masyarakat Sunda yang tinggal di wilayah Jayakarta seperti masyarakat Jatinegara Kaum. Sedangkan suku-suku dari etnis pendatang membentuk wilayah komunitasnya masing-masing. Maka di Jakarta sekarang ada wilayah-wilayah bekas komunitas itu seperti Pecinan, Pekojan, Kampung Melayu, Kampung Bandan, Kampung Ambon, Kampung Bali, dan Manggarai.
Pada 1 April 1905 nama Stad Batavia diubah menjadi Gemeente Batavia. Dengan selesainya Koningsplein (lapangan Gambir; sekarang lapangan Monas) pada tahun 1818, Batavia berkembang ke arah selatan. Tahun 1920, Belanda membangun kota taman Menteng, dan wilayah ini menjadi tempat baru bagi petinggi Belanda menggantikan Molenvliet di utara. Di awal abad ke-20, Batavia di utara, Koningspein, dan Mester Cornelis (Jatinegara) telah terintegrasi menjadi sebuah kota.
Pada 1 Januari 1926 pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan peraturan untuk pembaharuan sistem desentralisasi dan dekonsentrasi yang lebih luas. Di Pulau Jawa dibentuk pemerintahan otonom provinsi. Provincie West Java adalah provinsi pertama yang dibentuk di wilayah Hindia Belanda. Batavia menjadi salah satu keresidenan dalam Provincie West Java disamping Banten, Buitenzorg (Bogor), Priangan, dan Cirebon. Pada 8 Januari 1935 nama kota ini menjadi Stad Gemeente Batavia.

Sumber: wikipedia

0 komentar:

Poskan Komentar