Sejarah Perang Bubat II

Biarkan "Perang Bubat" Berlanjut

UMUMNYA sejarah “Perang Bubat” yang diungkapkan dalam bentuk novel atau prosa liris, hampir sama, menceritakan tentang gagalnya pernikahan Dyah Pitaloka (Citraresmi) dengan Hayam Wuruk akibat pengkhianatan Mahapatih Gajah Mada. Tokoh Gajah Mada menjadi sosok yang dibenci urang Sunda karena Gajah Mada dianggap berkhianat kepada rajanya, Prabu Hayam Wuruk.
Dengan tipu daya untuk menyulut amarah Linggabuwana, Gajah Mada meminta agar Pitaloka – yang tadinya akan dijadikan permaisuri Hayam Wuruk, agar diserahkan sebagai upeti. Gajah Madalah yang mengobarkan api peperangan, ketika hati Maharaja Linggabuwana (ayah Pitaloka) terluka, merasa dihina dan direndahkan, lalu memilih untuk melawan karena tidak mau menyerahkan putrinya sebagai upeti. Peperangan yang tak seimbang itu, tentu saja lebih merupakan sebuah pembantaian. Maharaja Linggabuwana, permaisuri, dan pasukan pengawalnya gugur di Bubat. Sementara Pitaloka memilih bunuh diri demi harga diri. Satu-satunya pengawal yang berhasil lolos adalah Pitar. Kisah tragis itu membuat banyak urang Sunda yang kanyenyerian, sakit hati, dan perasaan itu tetap terpelihara, hingga sekarang.
Menurut arkeolog lulusan Uiversitas Indonesia, Dr. Agus Aris Munandar, umumnya cerita tentang Perang Bubat yang mengilhami para penulis fiksi sejarah, bersumber dari buku Kidung Sunda. Akan tetapi, salah seorang pengarang yang paling banyak menulis fiksi berdasarkan peristiwa dalam sejarah Sunda, Yoseph Iskandar, termasuk novelnya mengenai Perang Bubat, menyebut sumbernya berdasarkan naskah “Pangeran Wangsakerta”.
Ketika berlangsung “Dialog Budaya Sekitar Perang Bubat” di Pusat Informasi Majapahit, Trowulan, Jawa Timur, tanggal 30 September lalu, Dr. Agus Aris Munandar menyampaikan tafsir baru mengenai Perang Bubat. Menurut Agus, rencana pernikahan Hayam Wuruk dengan Pitaloka bukanlah atas prakarsa Ratu Sepuh Tribhuwanatunggadewi. Pernikahan itu justru telah direncanakan Gajah Mada dengan Prabu Maharaja Linggabuwana. Gajah Mada menginginkan pernikahan itu, sebab niatnya untuk mempersatukan Sunda dengan Majapahit akan terwujud tanpa harus melalui peperangan. Hal yang sama juga diharapkan oleh Maharaja Linggabuwana karena pernikahan itu akan membuat wilayah Kerajaan Sunda semakin luas.
mbahmadaLalu kenapa Gajah Mada berkhianat? Inilah yang dianggap sebagai tafsir baru Agus. Ternyata tanpa sepengetahuan Gajah Mada dan Hayam Wuruk, diam-diam orang tua Hayam Wuruk (Cakradara/ Tribhuwanatunggadewi) telah menjodohkan Hayam Wuruk dengan Padukasori, putri Kudamerta/Rajadewi Maharasasa. Rajadewi adalah adik Tribhuwanatunggadewi. Kudamerta yang mendengar Gajah Mada telah melamar Pitaloka sebagai permaisuri Hayam Wuruk, berhasil memengaruhi Ratu Sepuh Tribhuwanatunggadewi untuk menggagalkan pernikahan tersebut. Gajah Mada terpaksa mengikuti kemauan orang tua Hayam Wuruk, mengubah posisi Pitaloka yang tadinya sebagai permaisuri, menjadi selir. Sikap Gajah Mada tersebut dirasakan Maharaja Linggabuwana sebagai penghinaan padahal Gajah Mada sendiri merasa sedih harus berbuat seperti itu. Maharaja memilih untuk berperang daripada menyerahkan putrinya sebagai selir. Maka terjadilah Perang Bubat. Akibatnya, menurut Agus, “Gajah Mada disalahkan oleh sejarah”.
Dalam Dialog Budaya di Trowulan, saya mempertanyakan tentang sebutan Perang Bubat, karena ada yang berpendapat, yang terjadi di Bubat itu bukanlah perang, tetapi lebih layak disebut pembantaian terhadap Raja Sunda bersama pengawalnya – sebab jumlah pasukan Gajah Mada dan pengawal Raja Sunda tidak berimbang. Akan tetapi menurut Agus, dalam semua naskah kuno, selalu disebut adanya Pabubat atau Perang Bubat. Sementara itu, wartawan senior Her Suganda lebih suka menyebutnya sebagai “Peristiwa Bubat”.
Dalam “Dialog Budaya Sekitar Perang Bubat” yang berlangsung tanggal 21 Oktober di Hotel Preanger, Agus menyampaikan tafsir barunya itu di hadapan sejumlah tokoh Sunda. Reaksinya, ada yang bisa mendengarkan dan memahami tafsir baru tersebut, tetapi ada juga yang tetap meyakini Gajah Mada sebagai tokoh yang telah berkhianat, dengan segala kelicikannya untuk menaklukkan Sunda.

Karakter kepemimpinan

Ketika saya menulis prosa liris yang diberi judul “Citraresmi – Riwayat Menyayat Perang Bubat” (diterbitkan oleh Kiblat Buku Utama), saya mengungkapkan peristiwa di Bubat itu seperti yang diyakini umumnya masyarakat Sunda selama ini. Tidak ada tafsir baru seperti Dr. Agus.
Kalaupun boleh disebut sebagai tafsir baru, melalui buku tersebut saya lebih menitikberatkan terhadap karakteristik tokoh-tokoh utama dalam Peristiwa Bubat itu, sebab dengan cara seperti itu kita akan lebih jernih “memahami” sepak terjang mereka.
Tokoh utama yang saya maksud adalah Gajah Mada, Hayam Wuruk, Pitaloka, Maharaja Linggabuwana, dan Bunisora Suradipati. Dalam prolog buku tersebut, saya ungkapkan seperti ini:
“Siapakah yang bersalah?
ketika masing-masing punya jawaban
untuk mewujudkan keinginan
Hayam Wuruk yang bijaksana
tapi kurang berani mewujudkan keinginan
Gajah Mada yang setia mengabdi pada negri
tapi terikat dan termakan sumpah sendiri
Maharaja Linggabuwana yang tulus dan lurus
tapi tak mampu membaca rekaperdaya
Citraresmi yang cantik dan berbakti
tapi terlalu setia mengikuti kata hati
Masing-masing memang punya alasan
untuk memilih yang terbaik
berbakti bagi negri
Biarkan sejarah bicara
apa adanya
mari kita buka kembali
lembaran silam yang kelam
dengan hati yang bening”.
Dalam buku prosa liris tentang Peristiwa Bubat itu, saya mempertajam “mahadaya cinta” antara Hayam Wuruk dan Pitaloka, termasuk mendramatisasi kematian Raja Sunda dan Pitaloka, sehingga akan tergambar sikap Gajah Mada yang “menghalalkan segala cara” untuk mewujudkan sumpah amukti palapanya.
Akan tetapi, Gajah Mada adalah seorang perwira tangguh yang punya prinsip harus “selalu menang dalam perang”. Prinsip itu ia dedikasikan untuk kehormatan raja dan kejayaan negeri. Dari sisi ini, sesungguhnya kita harus bisa memahami karakter Gajah Mada. Ketika Hayam Wuruk bersikukuh ingin menjemput Raja Sunda dan Pitaloka dengan upacara kebesaran, Gajah Mada juga berusaha keras untuk menggagalkannya. Saya mencoba mengungkapkannya secara imajinatif melalui sebuah ratapan permohonan:
“Tolonglah hamba, Paduka
jangan biarkan hamba melanggar sumpah
yang akan menodai pengabdian
pada kebesaran raja dan negara
selama ini hamba tak pernah memohon balas jasa
dan tak pernah menuntut apa pun
karena pengabdian hamba lakukan
dengan ketulusan hati nurani
demi kejayaan negri
tapi hanya untuk kali ini saja
izinkan hamba untuk memohon
Paduka tak usah menyambut ke Tegal Bubat
biarkan hamba yang datang
menyambut tamu agung
calon prameswari baginda, Puteri Citraresmi”.
Hayam Wuruk akhirnya luluh, dan Gajah Mada diam-diam mengerahkan ribuan pasukannya menuju Bubat. Ia meminta Raja Sunda agar menyerahkan Pitaloka jadi upeti. Lalu terjadilah Peristiwa Bubat itu.
Maharaja Linggabuwana, saya gambarkan sebagai raja yang berpikiran lurus, tidak “punya pikir rangkepan”, tidak bisa membaca rekaperdaya. Ketika diingatkan oleh adiknya Bunisora Suradipati agar jangan pergi ke Majapahit, jangan mau menyerahkan Pitaloka untuk dinikahkan dengan Hayam Wuruk, sebab kalau Raja datang untuk menyerahkan putrinya, berarti ia telah melanggar adat Karuhun. Menurut Bunisora, semestinya Hayam Wuruk yang datang ke Kerajaan Sunda untuk menikah dengan Pitaloka. Peringatan Bunisora malah ditentang oleh Linggabuwana, meskipun dalam hatinya ia merasa telah melakukan sesuatu yang tidak semestinya.
Saya sangat tertarik mengungkapkan karakter Bunisora, yang saya anggap lebih pantas disebut sebagai “Bapak Bangsa”. Terbukti setelah Peristiwa Bubat, calon raja yang masih kecil, Niskala Wastukancana (adik Pitaloka) dididik oleh Bunisora, dipersiapkan untuk menjadi seorang raja yang kelak memang menjadi raja terlama dalam memerintah, sekitar 100 tahun. Dalam epilog buku tersebut, saya menggambarkan sosok Bunisora seperti ini:
“Akan halnya Bunisora
ia menjadi begitu berjasa
karena telah belajar dari peristiwa kelam
tanpa menebarkan dendam
melainkan telah mewariskan keteladanan
yang kelak mengantar Niskala Wastukancana
menjadi raja yang paling lama berkuasa
raja yang menebarkan rasa aman dan tenteram”.
Hayam Wuruk dan Pitaloka adalah dua tokoh belia, yang saya gambarkan lebih suka “menuruti keinginan orang tua”.
Peristiwa Bubat adalah kejadian sejarah, dan akan lebih terasa hikmahnya bila digunakan sebagai tempat untuk becermin. Pemahaman kita tentang Peristiwa Bubat akan lebih jernih seandainya kita memosisikan diri untuk belajar dari peristiwa tersebut, termasuk memahami tokoh-tokoh pelakunya, memahami karakternya. Sebaiknya kita memahami mengapa Gajah Mada, Linggabuwana, Hayam Wuruk, dan Pitaloka, memutuskan sesuatu yang dianggapnya “harus dilakukan”, dan kemudian menjadi mata rantai sebab akibat Peristiwa Bubat. Saya mencoba mengungkapkannya seperti ini:
“Demikianlah kisah yang terpatri
di sanubari orang Sunda
melekat turun-temurun
dari masa ke masa
kadang dipahami
sebagai suatu pantangan
yang berlebihan
Padahal kalau kita simak
dengan sikap yang bijak
maka akan nampak
begitu banyak
tokoh pelaku sejarah
dalam Perang Bubat
yang teguh pada pendirian
dengan segala kelebihan
dan kelemahan”.
Dengan sudut pandang seperti itu, setiap peristiwa bersejarah akan dipahami sebagai rangkaian pembelajaran, tanpa harus terlibat dalam perasaan yang dialami tokoh-tokohnya. Begitu juga, ketika kemudian ditemukan hal-hal baru berdasarkan bukti-bukti ilmiah, maka akan selalu menjadi sesuatu yang berharga untuk dikaji.
Kalau kemudian ada yang bertanya, setujukah Anda jika Peristiwa Bubat dibuat film? Saya akan bilang setuju, tentu saja dengan catatan, film tersebut harus digarap dengan sungguh-sungguh, sehingga hasilnya menjadi sebuah karya yang bisa dibanggakan, apalagi kalau menjadi sebuah karya yang monumental. Kalau hasilnya hanya untuk meraih keuntungan semata, tanpa memedulikan kualitas – bahkan ke luar jalur, wajar bila banyak yang merasa keberatan.
Terjadinya kontroversi tentang Peristiwa Bubat, apakah itu munculnya tafsir baru atau kisah baru, tidaklah menjadi soal sepanjang itu berdasarkan penemuan-penemuan autentik yang bisa dipertanggung jawabkan secara keilmuan. Terlebih lagi, jika itu labelnya sebuah fiksi, maka pengarang akan lebih bebas mengumbar imajinasi.
Biarkan, bila banyak yang tertambat terhadap Peristiwa Bubat. Dengan begitu, generasi berikutnya akan mengenal bahkan memahami peristiwa bersejarah secara kritis. 

Tulisan : Eddy D. Iskandar,/Penulis Skenario/Ketua Umum FFB/Pemred “Galura”, Sumber PR.

0 komentar:

Poskan Komentar